KUARTET PEMBUNUHAN POLITIK INTERNASIONAL

Arjan Onderdenwijngaard 2011

quartet-uitn

Terinspirasi oleh permainan kuartet, saya membuat kuartet yang terdiri atas 15 kuartet (kumpulan 4 kartu) dari politisi dan orang orang yang dibunuh di seluruh dunia, disebabkan oleh etnis, keyakinan agama atau politik, pandangan atau hak pengumpulan berita.

Selain 15 kuartet itu adalah 1 kuartet terdiri atas orang orang yang di bawah ancaman serius  saat ini, sebab pendapat atau publikasi mereka. 

web 1

Permainan kuartet ini terdiri atas 16 kuartet dan 8 tokoh dari masing masing kuartet dicetak atas karton dengan ukuran A0. Kuartet asli, yang Belanda sentris, saya buat untuk pameran ‘Democracy in Action’ di hall tengah dari gedung balai kota DenHaag di Belanda,pada  bulan September 2009. Dalam kesempatan kali ini, ikon ikon dalam kuartet asli saya sesuaikan dengan sejarah  Indonesia dari dulu hingga saat ini, November 2011. Mixed Media.

 

Awal tahun dua ribuan di negara kincir angin, negara tempat kelahiran saya, mengalami dua kali pembunuhan politik. Tahun 2002 tokoh oposisi Pim Fortuyn dibunuh pas sebelum pemilu oleh aktivis lingkungan saat dia sangat populer dengan ambisi menang pemilu dengan partai Leefbaar Nederland .Dan akhirnya menjadi perdana menteri. Tahun 2004 sutradara film dan orang berpengaruh dalam media masa Theo van Gogh dibunuh oleh teroris Islam, karena dia buat film ‘Submission’ dengan aktivis Ayaan Hirsi Ali.

PEMIMPIN OPOSISI 01 - kopie

Dua pembunuhan politik ini memberi tekanan kepada masyarakat. Karena selama ratusan tahun itu tidak pernah terjadi, menurut berita di media massa Belanda. Saya tidak setuju pendapat tersebut dan ingat pembunuhan lain yang belum begitu lama terjadi dan akhirnya  saya memulai penelitian. Saya juga langsung teringat pembunuhan politik lain di seluruh dunia yang saya pernah lihat di beritaTV selama ini.

Apa yang saya ingin sampaikan dengan karya seni ini adalah, bahwa sejak awal orang orang di bawah ancaman oleh sebab keyakinan politik atau berpolitik mereka atau justru karena mereka melawan politik sebagai pemimpin oposisi atau pendukung revolusi. Manusia individual sering jadi korban dari situasi dan kondisi, zaman dan pilihan dia atau justru karena dia tidak memilih, sadar atau tidak sadar.

Permainan ini memberi penjelasan bahwa di seluruh dunia tokoh diktator, maupun oposisi yang dibunuh, baik tokoh perlawanan maupun pemimpin pemerintah.  Orang orang dari semua agama dan etnisitas, dari semua kelas sosial dan semua umur. Beberapa dari mereka menjadi ikon untuk generasi generasi selanjutnya, yang lain sudah cepat dilupakan. Pelaku dan korban adalah sering sama.Pahlawan untuk sebagian dari manusia, penjahat untuk bagian yang lain. Semua punya dua sisi, cahaya dan gelap.

Sebagian besar dari kita memilih posisi lebih aman, diluar lingkaran kekuasaan dan kekuatan. Mereka saling menyesuaikan diri dengan kondisi politik yang ada dan memilih kehidupan tenang dan lebih suka memberi komentar dalam anonimitas dan di lingkungan di sekitarnya.

Hanya berberapa dari kita mengambil tanggung jawab (politik) dan punya keberanian untuk campur tangan dengan semua risiko terkait.

web 2

 foto Viva News Fernando Randy

 

Laporan TV dari pembukaan pameran di GFJA  Link-link Resensi adalah dipaling bawa.

 

 

LISENSI MEMBUNUH oleh Oscar Motuloh, kurator

Pembunuhan perdana konon berawal  ketika putra-putra Adam dan Hawa beranjak dewasa.  Kain adalah yang sulung. Sehari-harinya dia bertani.  Sang adik bernama Habel, penggembala  kambing dan domba. Pada suatu hari, begitu  dikisahkan, mereka bersiap melakukan persembahan kepada Allah. Usai ritual, persembahan Habel ternyata berkenan bagi Allah, sementara persembahan Kain tak diindahkan Sang Khalik.  Arkian, kenyataan itu membarakan  kesumat dan angkara dalam diri Kain. Dia lalu menghabisi nyawa Habel, darah dagingnya sendiri. Begitulah pembunuhan pertama versi injil  yang terjadi di suatu kawasan agraris di luar Taman Eden. Selanjutnya,  mengelindinglah babak buram dunia pasca-Firdaus. Jaman yang paradoks  setelah  Adam dan Hawa terpental keluar dari Firdaus yang dilukiskan sangat damai,  indah-semerbak, harum mewangi dengan aroma surgawi.

Sejak saat  itu   antropologi pembunuhan terus dan berulang terjadi dengan rupa-rupa alasan. Di kota kota tertua di bumi, Jericho dan Damascus, pembunuhan politik beroleh panggungnya di antara intrik, ketamakan dan virus ganas bernama ambisi.  Begitu juga di blok regional yang lain, katakan Yunani dan Romawi,  juga di Tiongkok, India dan Persia sana, nyawa-nyawa gentayangan  terengut oleh  tangan-tangan yang penuh dengki dan kebencian. Kobaran dendamnya akan ada terus ada sepanjang jaman. Tengoklah apa yang dilakukan dengan penuh dendam oleh para serdadu gurun NTC terhadap diktator empat dekade, Moammar Gaddafi,  di dekat gorong-gorong tempatnya diciduk beberapa waktu lalu. Gorong-gorong sarang tikus  di Sirte, pesisir Libya, kota kelahiran Sang Kolonel. Dan Revolusi Musim Semi Arab (Timur Tengah) tampaknya belum akan berakhir.

Tepat pada Natal 1989, stasiun televisi negara Rumania yang sebelumnya direbut para milisi anti Komunis mencatatkan posisi mereka sebagai penyebar "reality show"  angkara murka. Sejak unjuk rasa menentang diktator Nicolai Ceausescu dan istirinya Elena, merebak di kotaBucharest,  maka sejak itu televisi menjadi simbol perlawanan rakyat. Dia menjadi semacam teater dendam yang digunakan para milisi anti-Ceausescu sebagai arena pembalasan untuk menggulingkan tirani absolut yang dibangunnya,  termasuk menarik tentara dan tentu polisi rahasia "Securitate", untuk memihak pergerakan. "Reality show" itu segera berimbas positif, dukungan meluas, sehingga memaksa Nicolai dan Elena serta sejumput loyalisnya terpojok di ujung gorong-gorong kekuasaan yang de fakto tak lagi ditangannya. Puncak pertunjukan adalah saat pasangan maut itu tertangkap militer Rumania kala berupaya kabur dari tanah airnya sendiri. Nicolai mengenakan mantel hitam dan syaal kotak-kotak marun hanya bisa pasrah dan berusaha terlihat cool. Dia tahu adegan berikutnya adalah siaran langsung televisi yang beberapa waktu sebelumnya adalah corong propagandanya dan Partai Komunis Rumania.

KEPALA NEGARA EROPA - kopie

"Scene maut"  berikutnya adalah milik kapten Ionel Boeru dan dua rekannya yang mengikat tangan sang "Romeo dan Juliet" menggelandangnya keluar ruangan dan menghadiahi pasangan itu dengan berondongan senapan serang buatan Uni Soviet  AK-47. Jenasah mereka dibiarkan teronggok di tanah dingin bulan Desember,  dengan hanya ditutupi terpal berwarna khaki milik militer Rumania yang sebelumnya adalah alat Ceausescu dalam melenyapkan nyawa rakyatnya. Darah mereka mengalir mencari jalannya sendiri sebelum mengering tak berarti.  Dalam film dokumenter "Videogram of Revolution",  karya Jerman Harun Farocki dan Andrei Ujica (1992,  , 1 jam 46 menit)  diperlihatkan bagaimana kerumunan kawula Rumania berteriak gembira di depan televisi saat kamera "reality show"nya kaum pemberontak tersebut memperlihatkan close up wajah Nicolai dan kemudian Elena yang pasi menyembul di antara terpal-terpal khaki yang menutupi tubuh-tubuh kaku mantan orang kuat negeri Rumania tersebut. Kematian yang membuka pintu bagi kekerasan demi kekerasan berikutnya.

Sementara itu, 7 September 2004,  di atas cakrawala India, tokoh HAM Indonesia, Munir Said Thalib, mulai keluar- masuk toilet  dalam penerbangan GA 974 yang rencananya akan menerbangkannya ke Amsterdam.  Itulah reaksi arsenik yang mulai menyerang jaringan tubuhnya. Racun jahanam itu  sengaja diselundupkan ke sajian penerbangan untuk pria kurus yang sebentar lagi akan menutup usianya pada angka 38 tahun. Munir adalah pejuang HAM yang konsisten, dia membeberkan penculikan-penculikan aktivis yang dilakukan pasukan paramiliter Angkatan Darat loyalis Suharto pada era gerakan Reformasi. Munir antara lain,  menjadi penasehat hukum pada kasus pembunuhan Marsinah, Peristiwa Priok dan empat Mahasiswa Trisakti yang terbunuh aparat di jalan Kiai Tapa, Grogol. Hingga detik ini pemerintah belum menuntaskan janjinya untuk mengungkap habis pembunuhan terencana atas tokoh HAM Indonesia tersebut, kecuali menghukum sebidak "pion" ke hotel prodeo selama 14 tahun. Sementara Sang Dalang masih berkeliaran dengan bebas dan merdeka. Penguasa seperti hanya menyediakan peti es sebagai wadah penampungan bagi kasus Munir dan sejumlah kasus HAM yang pernah terjadi di Indonesia.

Foto Kompas.com - kopie

foto Kompas.com

Demi mengenang spirit perjuangan Munir dan juga mensaksamai serial 60 pembunuhan-pembunuhan politik global dan 4 tokoh yang terancam mati oleh masyarakat tertentu, maka penyelenggaraan  pameran  KUARTET PEMBUNUHAN POLITIK INTERNASIONAL karya seniman, wartawan dan fotografer Belanda Arjan Onderwijngaard  di Galeri Foto Jurnlistik Antara digelar juga untuk memperingati Hari HAM Internasional yang jatuh pada 10 Desember 2011, juga HUT Kantor Berita  Antara yang didirikan pada 13 Desember 1937. Katalog pameran di desain berupa kartu kuartet yang sesungguhnya. Kuartet adalah permainan dengan kartu untuk pendidikan anak yang dirilis pada tahun enampuluhan oleh perusahaan Piatnik di Austria (berdiri sejak 1824). Kuartet ini berisi potret tokoh-tokoh yang menjadi korban pembunuhan politik secara global. Yang dapat dimainkan secara kolektif seraya mengenal lebih dalam figur  dan peristiwa yang ada dibalik pembunuhan politik internasional dan menganalisis latar belakangnya. Di penghujung tahun kita sekaligus dapat merenungkan dan memaknai kembali peristiwa-peristiwa tragis tersebut sebagai kritisi untuk perjalanan politik negeri tercinta kita  ke masa depan yang lebih adil dan demokratis dalam kancah bhineka Indonesia. Namun sebelum kita memimpikannya agar benar-benar terjadi, tak ada salahnya kita sedikit bertanya pada awan tebal kelabu yang sebentar lagi akan turun sebagai hujan.  "Apa sih yang  dapat diberikan oleh penguasa  selama  hampir dua periode kepada rakyatnya, jika  menegakkan hukum dan memberantas korupsi saja tak kunjung tuntas?".

 

Links ke resensi:

Jakarta Globe

Kompas

Satulingkar.com

Grafisosial.org

Vivanews.com