SHARING-A-HISTORY

Arjan Onderdenwijngaard 2009/2012

 

poster arslonga website ok -

 

SHARING – A – HISTORY adalah ajakan untuk sekadar berbagi cerita tentang kekuatan dan arti kata-kata dan dunia komunikasi.  Dan cerita tentang merefleksikan sejarah – budaya antar anak bangsa. Terlebih bagi Indonesia dan Belanda yang pernah bertautan dalam serangkaian peristiwa dan sejarah panjang. Lewat kosakata dari bahasa Belanda yang masih digunakan dalam bahasa Indonesia, saya mencoba menelusuri (apa yang sering disebut) jejak  kolonial dari sudut pandang yang berbeda. Bukan melulu dari wilayah kekuasaan dan kekerasan yang meninggalkan beban sejarah dari generasi ke generasi, bahkan pertentangan. Namun dengan membaca kembali akulturasi bahasa dan budaya kedua bangsa, diharapkan dapat merajut banyak sudut pandang yang melahirkan nilai-nilai baru.

5

 

Pameran SHARING-A-HISTORY ini akan menampilkan bentuk instalasi terdiri atas mixed media: fotografi, kertas dan kayu. Tercipta di Yogyakarta,  bulan februari dan maret 2009 dan di rekreasi di Depok bulan Januari-Maret 2012.

 

 

I          DEAD WORDS, KATA-KATA MATI: ILMU.

           8213 kata yang berasal dari bahasa Belanda yang masuk bahasa Indonesia, tertulis di kartu-kartu arsip dan masuk ke 3 kotak kayu jati              londo di atas meja jati londo.

           Rekreasi: DepokJanuari/Februari 2012.

          Referensi: ‘Loan Words in Indonesian and Malay’, Russell Jones, general editor,   KITLV Press Leiden, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta          2008. 

 

SAH werk I a

  

II        LIVING WORDS, KATA-KATA HIDUP: PENGETAHUAN.

8 Halaman dobel dari Koran-koran Indonesia dengan pemarkahan merah dari semua kata-kata yang  berasal dari bahasa Belanda yang masuk kosakata bahasa Indonesia.

Yogyakarta, februari/maret 2009

SAH werk II

 

 

 III      EVERYDAY WORDS, KATA SEHARI-HARI.

Foto-foto (4 R digital dan 10R sebagian terbesar digital, sebagian terkecil scan dari slide lama) dengan kata-kata berasal bahasa Belanda yang saya temukan di pinggir-pinggir jalan. 

Indonesia, 1987-2011, rekreasi Depok Maret 2012.

SAH werk IIIa

 

 

IV       WORLD OF WORDS, DUNIA KATA-KATA.

Alfabet dengan 20 foto-foto yang di scan dari slide lama dan 6 foto-foto digital yang mengambar dunia di belakang kata-kata yang merepresentasikan pengaruh Belanda dalam beberapa bidang di Indonesia.

Indonesia 1987-2011. Cetak ulang 2012.

SAH werk IV a

 

 

V         MEANINGFUL WORDS, KATA-KATA BERARTI.

Puisi asosiasi dengan kata-kata yang berasal dari bahasa Belanda yang masuk bahasa Indonesia. Sajak asosiasi ini mengambarkan hubungan antara negara dan bangsa Indonesia dan Belanda.

Yogyakarta, februari/maret 2009, rekreasi Depok, Maret 2012.

SAH Vb

 

MELIHAT RELUNG FOTO DIKEJADIAN KATA-KATA oleh Enjun JA, kurator Ruang Seni Arslonga Yogyakarta.

Tentu kita tak asing dengan kata yang tercetak di sembarang tempat dan menjadi pemandangan biasa sebagai penanda walau kadang hanya selintasan mata dan memang menganggapnya belum penting atau biasa adanya. Lain hal dengan pemilik mata yang satu ini; dia datang jauh-jauh dari negerinya sesungguhnya untuk melacak silsilah yang berkenaan dengan kata-kata, dengan kosa kata. (Selain bertautan dengan kerja budaya lainnya yang berkenaan dengan ‘segala sesuatu tentang keindonesiaan’). 

Sudah barang tentu kata-kata atau kosa kata yang kelahirannya dibidani oleh bangsanya yang pernah hidup selama tiga setengah abad di negara kepulauan ini diburunya di sembarang tempat: plang instansi, papan nama sebuah toko, tiang listrik, spanduk, bangunan-bangunan kota, bahkan apa pun yang berkenaan dengan kosa kata yang dianggap serumpun

Kita tak menafikkan dengan banyak istilah atau kosa kata yang dipakai dalam keseharian kita dengan banyak meminjam istilah asing dalam hal ini bahasa Belanda dimana fotografer petualang ini berasal. Tentunya sebuah kekayaan tersendiri dimana perkembangan bahasa ibu menjadi lebih beragam dan bernilai tambah; sebab sebuah akulturasi senantiasa tak luput dari semacam kelahiran budaya baru. 

Dan serpih budaya tadi terangkum dalam sebuah kerja dimana teknologi foto dianggap bisa membantu kemudahan sebuah kerja. Tetapi foto-foto itu penekanannya bukan pada sebuah tehnik fotografi melainkan lebih pada dokumentasi sebagai bagian dari riset dan naskah-naskah berkelindan melengkapinya. Sebuah kerja yang cukup memakan waktu dan perhatian penuh sekaligus menantang dan Arjan Onderdenwijngaard, penggagas ide ini, melakukannya tigapuluhan tahun dengan sepenuh hati. Lalu terkumpul sebanyak lebih 8000 kata (hasil dari penelitian tim linguis) dari berbagai jaman; dari VOC, revolusi, orde baru, reformasi sampai hari ini dan ia segera menamai kerja budayanya ini: SHARING - A - HISTORY, yang segera mengingatkan kita pada sejarah panjang dua kebudayaan dengan seting kolonialisme, tetapi tidak pada bentuk romantismnya melainkan lebih pada merefleksikannya: sebuah jeda untuk berbagi kisah dan mewakilkannya pada kata. Kata-kata itu memuat kata-kata mati, kata-kata hidup, dunia kata-kata, kata-kata sehari-hari, serta kata-kata berarti. 

Kosa kata itu terangkum dalam sebuah tajuk pameran dengan skuel ‘Instalasi’ yang berisi Foto, Naskah dan Karya Kertas. 

Tentu kita bertanya; sejauh mana kata berpengaruh dalam kehidupan? Tentunya sejauh keinginan menyelaminya dan memamah kata bukan sekedar mantra justru kata-kata akan hidup ketika semuanya terbuka.